<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TeknoJurnal &#187; TeknoMind</title>
	<atom:link href="http://www.teknojurnal.com/category/tekno-mind/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.teknojurnal.com</link>
	<description>Your IT Development Guide</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 12:00:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Idea Box : Application Store Sebagai Kanal Iklan</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/02/01/idea-box-application-store-sebagai-kanal-iklan/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/02/01/idea-box-application-store-sebagai-kanal-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 10:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putra Setia Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[application]]></category>
		<category><![CDATA[idea]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[mobile]]></category>
		<category><![CDATA[store]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=9212</guid>
		<description><![CDATA[Di minggu lalu saat saya melewati kawasan Pondok Indah, saya sempat melihat iklan di perempatan jalan yang bertulisakan kurang lebih "S Nexian Apps Planet". Di dalam iklan tersebut ditampilkan gambar produk smartphone Android dan screenshot application store yang memiliki logo S Nexian di dalamnya. Secara otomatis saya berpikir bahwa mereka membuat application store buatan sendiri dimana pengguna akan dikenakan biaya potong pulsa untuk proses pembelian aplikasi. Tapi apakah cuma itu manfaatnya? apakah cuma sekedar menjadi alat jualan aplikasi android saja, atau bisa dimanfaatkan untuk hal lainnya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/02/Screen-Shot-2012-02-01-at-12.02.17-PM.png"><img class="alignleft  wp-image-9215" title="Screen Shot 2012-02-01 at 12.02.17 PM" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/02/Screen-Shot-2012-02-01-at-12.02.17-PM-267x300.png" alt="" height="120" /></a>Di minggu lalu saat saya melewati kawasan Pondok Indah, saya sempat melihat iklan di perempatan jalan yang bertulisakan kurang lebih &#8220;S Nexian Apps Planet&#8221;. Di dalam iklan tersebut ditampilkan gambar produk <em>smartphone</em> Android dan <em>screenshot</em> <em>application store</em> yang memiliki logo S Nexian di dalamnya. Secara otomatis saya berpikir bahwa mereka membuat <em>application store</em> buatan sendiri dimana pengguna akan dikenakan biaya potong pulsa untuk proses pembelian aplikasi. Tapi apakah cuma itu manfaatnya? apakah cuma sekedar menjadi alat jualan aplikasi android saja, atau bisa dimanfaatkan untuk hal lainnya?</p>
<p>Jika melihat dari besarnya pasar S Nexian di Indonesia ini memang menjadi hal yang sangat menarik untuk membuat <em>application store</em> sendiri yang lebih lokal dan lebih terfilter jenis aplikasinya. Kanal distribusinya pun sudah mereka miliki di seluruh Indonesia. Hal ini juga bisa menjadi faktor yang dapat mempermudah proses edukasi market kedepannya.</p>
<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/02/Screen-Shot-2012-02-01-at-11.24.20-AM.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-9213" title="Screen Shot 2012-02-01 at 11.24.20 AM" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/02/Screen-Shot-2012-02-01-at-11.24.20-AM-185x300.png" alt="" width="185" height="300" /></a></p>
<p>Dari faktor faktor tersebut saya memiliki ide pribadi bagaimana memanfaatkan Android aplication store buatan sendiri. Satu hal yang saya pikirkan adalah menjadikan <em>application store</em> tersebut sebagai kanal iklan. Bukan Iklan dalam bentuk <em>banner</em> di dalam <em>application store</em>, tapi iklan dalam bentuk <em>notification</em> yang biasanya muncul pada Android <em>notification bar</em>.</p>
<p>Jika <em>application store</em> tersebut telah terinstall di handset, maka secaa otomatis sistemnya akan mengirimkan notifikasi berupa promo aplikasi mobile. Deskripsi yang diberikan akan bukan hanya sekedar nama aplikasi, tapi bisa berupa kata kata yang &#8220;mengajak&#8221; si pengguna untuk mendownload atau bahkan membeli aplikasi tersebut. Mengingat sudah ada metode potong pulsa maka besar kemungkinan si pengguna langsung bisa membeli aplikasi tersebut.</p>
<p>Hal ini agak berbeda dengan broadcast SMS yang di blok oleh pemerintah. Dengan menggunakan notifikasi, promo sebuah aplikasi akan lebih murah dan lebih terpercaya, karena datangnya resmi dari vendor handset tersebut. Bahkan sangat memungkinkan jika nantinya promo atau iklan sebuah aplikasi akan bisa menyasar target pengguna yang tepat berdasarkan dari data kategori aplikasi yang paling sering di cari dan paling sering di <em>download</em> oleh si pengguna di application store tersebut.</p>
<p>Memang sebuah ide yang masih sangat dangkal, tapi begitu saya mencari konsep yang serupa di internet saya berhasil menemukan ternyata sebuah perusahaan jepang sudah mengimplementasikan konsep seperti ini. Berikut adalah screenshot yang saya temukan.</p>
<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/02/Screen-Shot-2012-02-01-at-12.00.28-PM.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-9214" title="Screen Shot 2012-02-01 at 12.00.28 PM" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/02/Screen-Shot-2012-02-01-at-12.00.28-PM-300x211.png" alt="" width="300" height="211" /></a></p>
<p>Dari gambar diatas, anda bisa lihat baris terakhir dari gambar tersebut. Tulisan dalam bahasa jepang tersebut jika diartikan adalah &#8220;Diet by an App&#8221; / &#8220;Diet dengan Aplikasi&#8221;. Ini adalah sebuah contoh dimana iklan ternyata bisa dikirimkan dan dimunculkan di <em>notification bar</em> pada <em>smartphone</em> Android. Adalah KDDI, sebuah operator telekomunikasi kedua terbesar di Jepang yang melakukan hal ini.</p>
<p>Saya sendiri belum mencoba <em>application store</em> dari S Nexian ini. Mungkin saja konsep ini sudah dipakai, atau mungkin mereka memiliki konsep yang jauh lebih baik. Tapi terlepas dari semua itu, saya menjadi yakin jika di Indonesia bisa membuat <em>application store</em> sendiri dengan konsep yang baik dan dengan kanal distribusi yang masiv maka kedepannya bisa menjadi lahan bisnis baru bagi para penggiat dunia digital.</p>
<p>Nah itu adalah secuil ide saya, bagaimana dengan pendapat anda?</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/02/01/idea-box-application-store-sebagai-kanal-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang Sebetulnya Pemerintah Depok Canangkan Untuk Depok Cyber City?</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/02/01/apa-yang-sebetulnya-pemerintah-depok-canangkan-untuk-depok-cyber-city/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/02/01/apa-yang-sebetulnya-pemerintah-depok-canangkan-untuk-depok-cyber-city/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 05:30:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Firman Nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[cyber city]]></category>
		<category><![CDATA[depok]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=9199</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu TeknoJurnal pernah membahas program Cyber City yang diusung oleh Depok di Jawa Barat, dan kalau tidak salah bukan kota Depok saja yang mengusung program Ciber City. Nah, kebetulan kemarin saya menghadiri acara diskusi antara pelaku industri, pemerintahan, dan komunitas membahas tentang hal ini di Depok karena tertarik dengan konsep Cyber City yang dijabarkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-9205" title="Balaikota Depok" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/02/Balaikota-Depok-150x150.jpg" alt="Balaikota Depok" width="150" height="150" />Beberapa waktu lalu TeknoJurnal pernah <a href="http://www.teknojurnal.com/2011/11/01/depok-kota-cyber-dan-komunitas/">membahas </a>program Cyber City yang diusung oleh Depok di Jawa Barat, dan kalau tidak salah bukan kota Depok saja yang mengusung program Ciber City. Nah, kebetulan kemarin saya menghadiri acara diskusi antara pelaku industri, pemerintahan, dan komunitas membahas tentang hal ini di Depok karena tertarik dengan konsep Cyber City yang dijabarkan.</p>
<p>Hasil diskusi yang saya dapatkan dari pihak pemerintah di diskusi tersebut, pihak pemerintah sendiri tidak bisa menjelaskan dengan jelas tentang apa sebenarnya tujuan dan <em>road map</em> dari Depok sebagai Cyber City, agak berbeda dengan apa <a href="http://diskominfo.depok.go.id/?p=40" target="_blank">yang pernah saya baca</a> di sebuah artikel di situs Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Depok. Menjadi tidak jelas apa sebetulnya konsep Cyber City yang diusung oleh kota Depok setelah diskusi tersebut.</p>
<p>Dari sisi para penggiat komunitas, mereka mengharapkan bahwa apa yang direncanakan kota Depok dengan program Cyber City ini nantinya bukan malah menekan komunitas atau mempersulit pergerakan komunitas di bidang TI dalam ikut membangun kota Depok. Dari sisi pelaku industri TI juga mengharapkan pemerintah nantinya bukan malah menekan pertumbuhan usaha di bidang TI seperti mempersulit birokrasi atau memberikan pajak yang tinggi kepada usaha-usaha bidang TI yang sedang dikembangkan.</p>
<p>Baik para penggiat komunitas ataupun pelaku industri TI, tanpa campur tangan pemerintah Depok pun sebetulnya bisa berdiri sendiri. Jikalau pemerintah Depok mau membantu itu bagus kalaupun tidak ya tidak apa, yang penting jangan sampai malah membuat repot. Namun begitu akan sangat bagus jika terjadi sinergi antara komunitas, industri, dan pemerintah di Depok untuk bersama-sama mengembangkan TI di kota Depok.</p>
<p>Mungkin wajar jika terjadi hasil diskusi yang telah dilakukan dirasakan kurang maksimal karena ini pertama kalinya pemerintah Depok berdiskusi langsung dengan para komunitas dan pelaku industri di Depok. Namun saya sendiri menyambut baik inisiatif dari pemerintah Depok untuk berkomunikasi langsung dengan para penggiat komunitas dan pelaku industri TI di Depok untuk membahas tentang program Cyber City. Dan kedepannya pemerintah Depok mengatakan mereka akan aktif berkomunikasi dengan mereka dan mengajak mereka mengikuti acara-acara yang dilaksanakan oleh pemerintah Depok seputar dunia TI.</p>
<p>Saya sendiri berharap nantinya Depok bisa seperti Solo dimana pemerintah <a href="http://dailysocial.net/post/tag/solo/" target="_blank">aktif</a> membangun ekosistem TI di kota Solo. Dengan potensi yang dimiliki kota Depok di bidang TI seperti SDM-nya hingga infrastrukturnya, Depok seharusnya bisa menjadi kota dengan ekosistem TI yang bagus dan melahirkan banyak pengusaha-pengusaha baru di bidang IT.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/02/01/apa-yang-sebetulnya-pemerintah-depok-canangkan-untuk-depok-cyber-city/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menentukan Harga Sebuah Aplikasi Mobile</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/01/30/menentukan-harga-sebuah-aplikasi-mobile/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/01/30/menentukan-harga-sebuah-aplikasi-mobile/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 09:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putra Setia Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[application]]></category>
		<category><![CDATA[harga]]></category>
		<category><![CDATA[mobile]]></category>
		<category><![CDATA[store]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=9173</guid>
		<description><![CDATA[Menjual aplikasi di toko aplikasi semacam App Store dan Android Market adalah sesuatu yang tidak mudah sekaligus mengasikkan. Lebih mengasikkan lagi kalau keuntungan yang dicapai melimpah ruah dikarenakan jumlah unduhan aplikasi berbayar yang juga melimpah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/price-tag.jpg"><img class="alignleft  wp-image-9175" title="price-tag" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/price-tag-241x300.jpg" alt="" width="150" /></a>Menjual aplikasi di toko aplikasi semacam App Store dan Android Market adalah sesuatu yang tidak mudah sekaligus mengasikkan. Lebih mengasikkan lagi kalau keuntungan yang dicapai melimpah ruah dikarenakan jumlah unduhan aplikasi berbayar yang juga melimpah.</p>
<p>Satu hal yang menurut saya cukup sulit dan menarik untuk dibahas adalah soal &#8220;harga&#8221;, apakah harga yang diberikan untuk sebuah aplikasi <em>mobile </em>sudah sebanding dengan usaha si pengembang aplikasi dalam membuat aplikasi? Apakah harga tersebut cocok dengan pengguna? Apakah harga yang dikeluarkan merusak pasar? Apakah terlalu mahal atau malah terlalu murah? Dan masih banyak sekali pertanyaan mengenai masalah harga sebuah aplikasi <em>mobile</em> yang ada di kepala saya.</p>
<p>Harga ideal yang bisa ditawarkan dari sebuah aplikasi <em>mobile</em> akan sangat bergantung pada tipe aplikasinya. Memang kalau kita berbicara tentang toko aplikasi<em>,</em> maka kita juga akan berbicara volume pengguna yang cukup besar, cara beli yang bisa kapanpun di manapun, hingga murahnya biaya distribusinya. Jadi kadang beberapa pengembang aplikasi berpikiran bahwa tidak masalah jika harus menjual aplikasi mereka di level<em> tier 1</em> (kisaran $0.99) yang penting adalah jumlah unduhan. Tapi bagaimana jika aplikasi yang dijual merupakan aplikasi yang berpotensi digunakan oleh profesional ataupun korporat? Berapa harga yang harus dipasang?</p>
<p>Berikut adalah data dari Distimo mengenai harga rata-rata dari tiap kategori aplikasi yang ada di App Store dan Android Market. Data tersebut juga dilengkapi dengan tingkat kepopuleran di kategori aplikasi di kalangan pengguna tiga toko apllikasi. Data ini diambil dari aplikasi yang berhasil masuk kejajaran <em>top grossing</em> di kisaran akhir tahun 2011.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-30-at-9.29.10-AM.png"><img class="aligncenter  wp-image-9174" title="Rata rata harga aplikasi mobile berdasarkan kategorinya" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-30-at-9.29.10-AM-1024x691.png" alt="" width="550" /></a></p>
<p>Jika kita lihat data di atas, aplikasi dengan kategori <em>education</em> di iPad menempati rata-rata harga yang cukup tinggi tetapi dengan jumlah unduhan yang tidak terlalau signifikan jika dibandingkan dengan aplikasi <em>games</em>. Harga untuk aplikasi <em>games</em> tidak terlalu tinggi, tetapi kebutuhan pengguna sangat tinggi untuk aplikasi ini.</p>
<p>Nah jika saya atau anda sebagai pengembang aplikasi mematok harga yang sangat rendah untuk aplikasi pendidikan, maka sebenarnya volume pengguna anda tidaklah terlalau besar, yang efeknya uang yang anda dapatkan juga tidak terlalu besar. Lain halnya jika anda tetap ingin menjual murah aplikasi tersebut dan menambahkan <em>in-app-purchase</em> di dalamnya. Anda bisa unggul dari para pesaing anda di kategori <em>education,</em> tetapi tetap bisa mendapatkan keuntungan dalam jumlah besar. Tapi lagi-lagi anda harus mengeluarkan usaha tambahan untuk bisa membuat pengguna menggunakan fitur <em>in-app-purchase</em> anda.</p>
<p>Beda halnya dengan aplikasi <em>games</em>. Jika harga yang anda keluarkan sangat tinggi maka anda akan bersaing dengan game lainnya yang mungkin memiliki <em>gameplay</em> yang sama, tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Minat pengguna sangat besar di kategori ini, volume pengguna cukup besar, sehingga saya rasa rasional untuk membuat harganya sedikit lebih murah walaupun apliaksi <em>games</em> yang dibuat memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi.</p>
<p>Data di atas ini saya rasa cukup berguna dalam penetuan harga. Para pengembang aplikasi bisa menetukan harga dengan menganalisa relasi harga , kebutuhan dan juga popularitas dari tiap-tiap kategori dan menyesuaikannya dengan kategori aplikasi yang telah dibuat. Dengan membuat  aplikasi yang bagus serta didukung harga yang mampu bersaing serta membuat nyaman pengguna dalam membelanjakan uang mereka, saya rasa dua hal itu akan menjadi formula kombinasi awal yang cukup menarik saat anda akan menjual aplikasi anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/01/30/menentukan-harga-sebuah-aplikasi-mobile/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temple Run : Game Gratis di iOS dengan Keuntungan Selangit</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/01/26/temple-run-game-gratis-di-ios-dengan-keuntungan-selangit/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/01/26/temple-run-game-gratis-di-ios-dengan-keuntungan-selangit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 09:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putra Setia Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[apple]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[ios]]></category>
		<category><![CDATA[Temple Run]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=9125</guid>
		<description><![CDATA[Masuk ke dalam Apple App Store adalah satu hal yang cukup sulit. Jika pengembang aplikasi bisa menaruh aplikasi nya di dalam Apple App Store adalah sesuatu yang membanggakan. Tetapi menghasilkan jumlah unduhan yang tinggi dan uang yang maksimal adalah satu hal yang lebih sulit. Membuat aplikasi tersebut gratis adalah cara paling mudah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan jumlah unduhan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-26-at-9.24.39-AM.png"><img class="alignleft  wp-image-9126" style="margin: 5px;" title="Temple Run" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-26-at-9.24.39-AM.png" alt="" width="150" /></a>Masuk ke dalam Apple App Store adalah satu hal yang cukup sulit. Jika pengembang aplikasi bisa menaruh aplikasi nya di dalam Apple App Store adalah sesuatu yang membanggakan. Tetapi menghasilkan jumlah<em></em> unduhan yang tinggi dan uang yang maksimal adalah satu hal yang lebih sulit. Membuat aplikasi tersebut gratis adalah cara paling mudah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan jumlah unduhan. Tapi di sisi lain menjadikan si pengembang aplikasi harus berjuang ekstra untuk mendapatkan uang. Tapi apakah benar dengan menggratiskan aplikasi, maka akan lebih sulit mendapatkan uang? Apakah model bisnis seperti <em>in-app-purchase</em> ataupun iklan lebih sulit untuk mendapatkan keuntungan dibandingkan dengan konsep aplikasi berbayar? Nah mari kita lihat kasus dari aplikasi <em>mobile</em> berbentuk <em>game</em> di Apple App Store yang bernama <a href="http://itunes.apple.com/us/app/temple-run/id420009108?mt=8" target="_blank">Temple Run</a>.</p>
<div>Temple Run adalah aplikasi <em>game</em> buatan Imangi Studio. <em>Game</em> ini berhasil meraih keuntungan yang meningkat 5 kali lipat semenjak <em>game</em>-nya dirilis dengan harga Rp0,00 atau dengan kata lain gratis. Mereka benar-benar memanfaatkan <em>in-app-purchace</em> di <em>game</em> tersebut yang harganya berkisar antara $0.99-$19.99. Konsepnya sederhana, pengguna hanya tinggal membeli koin ekstra untuk mendapatkan kemampuan ekstra dalam permainan Temple Run.</div>
<p>Yang menarik adalah ketika saya berpikir bahwa saat ini, apalagi di Indonesia, banyak orang yang senang dengan yang namanya aplikasi gratisan. Jika aplikasi tersebut tidak gratis maka kebanyakan orang akan mencari versi bajakannya walaupun <em>smartphone</em> yang mereka memiliki harganya selangit. Tetapi, untuk masalah aplikasi, kebanyakan sangatlah irit mengeluarkan uang. Satu hal yang saya pelajari, bahwa aplikasi tidak bisa dipamerkan. Tetapi mungkin, level dari aplikasi ataupun <em>game</em> tersebut yang kadang bisa dipamerkan ke sesama teman.</p>
<p>Banyak orang yang tidak mau membeli, tetapi senang untuk meng-<em>upgrade</em>. Entah itu men-<em>gupgrade level</em> permainan karena kecanduan, ataupun meng-<em>upgrade</em> kemampuan karakter atau hal-hal sejenis lainnya untuk bisa bersaing antar pemain. Hal ini saya sadari ketika berkunjung ke sebuah warnet, dimana banyak anak-anak SD sampai SMA bermain <em>game online</em> gratis, diiringi membeli uang virtual (berbentuk voucher game) yang harganya jauh lebih mahal dari harga sewa per jam/per paket warnet tersebut.</p>
<p>Mungkin hal ini juga yang disadari dari Temple Run. Akan lebih menguntungkan menjual aplikasi secara gratis dan mencapai total <em>download</em> ratusan ribu, yang kemudian menargetkan 10% dari total <em>download</em> tersebut memakai <em>in-app-purchase</em> yang harganya berkisar dari $0.99-$19.99. Dibandingkan jika hanya mendapatkan <em>download</em> puluhan ribu, dan dijual dengan harga $0.99. Dengan <em>game</em> yang sederhana mereka mencoba bersaing di banyaknya <em>user download</em>, sambil membuat peningkatan persentase orang yang membeli koin virtual di Temple Run.</p>
<div id="attachment_9127" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-26-at-9.24.29-AM.png"><img class=" wp-image-9127 " title="Temple Run " src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-26-at-9.24.29-AM.png" alt="Temple Run " width="500" /></a><p class="wp-caption-text">Temple Run</p></div>
<p>Berita ini cukup bagus untuk para pengembang aplikasi, karena hanya dengan mengandalkan <em>in-app-purchase</em> saja ternyata memang bisa menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda ketimbang menjual aplikasi tersebut. Pengembang aplikasi tidak perlu ragu lagi untuk melepas aplikasi nya secara gratis asalkan yakin dengan apa yang ditawarkan dan yakin bahwa memiliki faktor adiktif dan memiliki nilai plus sebagai peningkat emosi ataupun adrenalin, maka saya rasa tidak ada salahnya dicoba melepas game di App Store secara gratis.</p>
<p>Saya sendiri memang belum pernah merilis apliaksi ataupun game di Apple App Store. Tapi saya yakin bahwa kita sebagai pengembang aplikasi harus mencoba berbagai cara sebelum tahu bisnis model mana yang paling cocok dengan aplikasi ataupun <em>game</em> yang kita buat. Untuk mencoba game Temple Run anda bisa menuju ke halaman <a href="http://itunes.apple.com/us/app/temple-run/id420009108?mt=8" target="_blank">ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/01/26/temple-run-game-gratis-di-ios-dengan-keuntungan-selangit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Masuk ke Jajaran Top Ten di Android Market ?</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/01/20/bagaimana-masuk-ke-jajaran-top-ten-di-android-market/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/01/20/bagaimana-masuk-ke-jajaran-top-ten-di-android-market/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 06:30:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putra Setia Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[android]]></category>
		<category><![CDATA[Market]]></category>
		<category><![CDATA[mobile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=9085</guid>
		<description><![CDATA[Jika berbicara aplikasi mobile di Android market ataupun application store lainnya, pasti kita akan membahas juga mengenai bagaimana masuk ke jajaran top ten dari market tersebut. Posisi top ten bukan hanya keren didengar tetapi juga bisa meningkatkan jumlah download yang tentu saja membuka peluang untuk mendapatkan keuntungan. Pertanyaan yang sering saya jumpai adalah, seberapa banyak kah jumlah download yang diperlukan untuk masuk ke jajaran top ten?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/top10.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-9088" title="top10" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/top10-150x300.gif" alt="" width="150" height="300" /></a>Jika berbicara aplikasi mobile di Android market ataupun application store lainnya, pasti kita akan membahas juga mengenai bagaimana masuk ke jajaran top ten dari market tersebut. Posisi top ten bukan hanya keren didengar tetapi juga bisa meningkatkan jumlah download yang tentu saja membuka peluang untuk mendapatkan keuntungan. Pertanyaan yang sering saya jumpai adalah, seberapa banyak kah jumlah download yang diperlukan untuk masuk ke jajaran top ten?</p>
<p>Jawaban yang saya dapat setelah berbincang bincang dengan rekan sesama developer adalah beragam. Tergantung dari application storenya. Dan kali ini saya akan coba mengupas strateginya untuk Android market. Jika berbicara Android market, maka jumlah download yang diperlukan tidaklah selalu harus ratusan ribu untuk mencapai top ten. Tapi, tidak bisa juga hanya mengandalkan momen tertentu, atau judul tertentu untuk bisa masuk kejajaran top ten.</p>
<p>Yang perlu diketahui adalah, Google memiliki 200 parameter yang bisa dikombinasikan untuk memungkinakn si aplikasi masuk ke jajaran top ten. Dan sampai saat ini Google selalu memperbarui algoritmanya tersebut. Dan satu hal lagi yang tidak boleh dilewatkan adalah, tiap negara memiliki algoritma tersendiri yang juga berbeda beda antar negara. Jika aplikasi anda banyak di download di Jepang, belum tentu aplikasi anda masuk kejajaran top ten di Indonesia misalnya.</p>
<p>Walaupun begitu ada beberapa tolak ukur dari Google yang hingga saat ini cukup ampuh untuk dicoba diimplementasikan. Salah satunya adalah faktor dari rata rata jumlah download. Jika aplikasi anda hanya memiliki rata rata download perhari maksimal 300, maka secara kasar aplikasi anda akan sulit masuk kedalam top ten. Tetapi, jika anda bisa meningkatkan jumlah download rata rata dari 300 ke 20.000 &#8211; 50.000 perhari dalam kurun waktu 1-3 minggu, maka ada kemungkinan aplikasi anda akan hadir dijajaran top ten, walaupun jumlah download keseluruhan tidak mencapai 100.000 ke atas.</p>
<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-19-at-1.46.23-PM.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-9086" title="lonjakan jumlah download di android market" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-19-at-1.46.23-PM.png" alt="" width="214" height="212" /></a></p>
<p>Faktor kedua adalah rating. Rating menjadi faktor yang di perhatikan banyak developer. Kebanyakan berpikiran bahwa dengan mendapatkan rating secepatnya maka aplikasi mereka akan juga cepat masuk ke top ten. Kadang mereka mereka memunculkan notifikasi untuk memasukan rating di tengah tengah aplikasi dijalankan. Cara ini sebenarnya cukup beresiko jika si developer tidak memunculkannya di waktu yang tepat. Kenapa? karena kadang pengguna merasa jengkel dengan notifikasi ini dan akhirnya meninggalkan rating yang rendah, padahal mereka menyukai aplikasi tersebut. Berikut adalah contohnya.</p>
<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-19-at-1.51.02-PM.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-9087" title="Contoh komentar di android market" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-19-at-1.51.02-PM-300x135.png" alt="" width="300" height="135" /></a></p>
<p>Berikan kesempatan kepada pengguna untuk mencoba lebih lama dan lebih sering. Barulah munculkan notifikasi untuk meninggalkan rating pada aplikasi anda.</p>
<p>Faktor berikutnya adalah lama aplikasi anda berada di handset pengguna. Dengan membuat aplikasi yang mengajak pengguna untuk memakai nya lagi di waktu yang lain, maka akan semakin memperbesar kesempatan anda untuk masuk ke jajaran top ten. Contoh mudahnya adalah aplikasi game yang berbasis time based, kemudian ada apikasi news reader, atau bahkan aplikasi chat. Jika aplikasi anda banyak di download (misal 200.000), tetapi setelah 1 minggu di remove dari handset pengguna, maka kecil kemungkinan aplikasi tersebut bisa masuk kejajaran top ten.</p>
<p>Perlu diketahui juga bahwa apliaksi yang masuk featured, belum tentu akan bisa masuk top ten dengan cepat. Mengapa? karena belum tentu aplikasi tersebut dimainkan, atau bahkan bertahan lama di handset pengguna. Jadi jangan puas dulu jika aplikasi anda hanya masuk di featured Android Market.</p>
<p>Nah, trik untuk mengatasi nya jika dipandang dari segi marketing adalah dengan membelanjakan budget marketing anda di minggu minggu awal, dan bukan untuk jangka panjang. Cara ini tidak serta merta berhasil, jika konten dari aplikasi tersebut memang tidak menarik. Tapi jika anda yakin aplikasi anda menarik, tidak ada salahnya mencoba untuk membelanjakan budget marketing anda di minggu minggu awal. Karena dengan jumlah download yang tidak terlalau banyak, tetapi memiliki lonjakan yang sangat besar maka kesempatan anda untuk masuk kedalam top ten akan semakin besar.</p>
<p>Nah tadi itu adalah hasil diskusi dan riset kecil kecilan dari saya pribadi. Bagaimana dengan anda? apakah anda punya cara lainnya untuk bisa menembus jajaran top ten di Android Market? Silahkan berbagi di kolom komentar kami jika ada ide atau pengalaman menarik yang anda miliki.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/01/20/bagaimana-masuk-ke-jajaran-top-ten-di-android-market/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Smartphone : Gadget yang Semakin Menyentuh Emosi Penggunanya?</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/01/18/smartphone-gadget-yang-semakin-menyentuh-emosi-penggunanya/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/01/18/smartphone-gadget-yang-semakin-menyentuh-emosi-penggunanya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 09:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putra Setia Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[handphone]]></category>
		<category><![CDATA[memory]]></category>
		<category><![CDATA[mind]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=9060</guid>
		<description><![CDATA[Handphone sekarang ini dianggap sebagai benda penting yang harus dimiliki atau dibawa kemanapun si pengguna pergi. Jika sebelumnya sebagian besar digunakan hanya untuk tujuan komunikasi semata (telepon dan SMS) , handphone saat ini telah lebih memiliki banyak kegunaan daripada hanya sekedar 2 hal tersebut. Apalagi ditambah dengan kemuculan smartphone. Smartphone bisa digambarkan sebagai gadget multimedia yang semakin dekat secara personal, emosional, dan bahkan mempengaruhi tingkat produktivitas seseorang. Lalu timbul pertanyaan. Kenapa Bisa Begitu?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-18-at-10.07.00-AM.png"><img class="alignleft  wp-image-9061" style="margin: 5px;" title="love smartphone" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-18-at-10.07.00-AM-262x300.png" alt="" height="150" /></a>Handphone sekarang ini dianggap sebagai benda penting yang harus dimiliki atau dibawa kemanapun si pengguna pergi. Jika sebelumnya sebagian besar digunakan hanya untuk tujuan komunikasi semata (telepon dan SMS), handphone saat ini telah memiliki lebih banyak kegunaan daripada hanya sekedar 2 hal tersebut. Apalagi ditambah dengan kemuculan smartphone. Smartphone bisa digambarkan sebagai gadget multimedia yang semakin dekat secara personal, emosional, dan bahkan mempengaruhi tingkat produktivitas seseorang. Lalu timbul pertanyaan. Kenapa bisa begitu?</p>
<p>Smartphone sendiri secara umum dapat melakukan banyak hal yang berbungan dengan komunikasi maupun multimedia. Contohnya seperti telepon, SMS, foto, video, berkirim foto dan lain sebagainya. Tapi menurut saya ada dua fitur sederhana yang membuat smartphone secara umum sangat diminati, khususnya di Indonesia. Yang pertama adalah hadirnya kamera dan yang kedua adalah fitur smartphone sebagai penyimpan &#8220;memori&#8221; penting seseorang.</p>
<p>Kebanyakan smartphone saat ini kebanyakan sudah dilengkapai 2 kamera. 1 Kamera belakang, yang biasanya memiliki resolusi yang lebih besar dari kamera depan. Semakin besar resolusi biasanya gambar yang dihasilkan akan semakin jernih dan membuat seseorang menjadi lebih menarik. Maka dari itu di Indonesia dapat dipastikan kalau smartphone berkamera bagus pasti akan dipakai oleh kebanyakan para wanita untuk narsis berfoto. Dan bagi para pria kebanyakan digunakan untuk memfoto objek menarik yang di temukan di suatu tempat. Kamera pada smartphone membuat si pengguna tidak ingin melewatkan mengabadikan momen spesial dan langsung membagikannya ke akun jejaring sosial mereka.</p>
<p>Nah, fitur yang kedua ini memang sangat sederhana. Yaitu smartphone sebagai media penyimpanan file file multimedia seperti foto, video, suara, musik, dan tulisan. Tapi jika kita pikirkan lebih dalam lagi, maka memori di smartphone tidak hanya menyimpan file file multimedia saja, tapi juga menyimpan nilai kenang-kenangan bagi si pengguna. Entah kenapa saya berpikiran sedikit mellow, tapi saya yakin kalau gadget yang satu ini lebih banyak menyimpan kenangan dibandingkan gadget lainnya. Mulai dari kenang-kenangan bersama keluarga, pekerjaan, sampai teman teman. Banyak orang yang kehilangan smartphone mereka, lebih merasa kehilangan data data pribadi, foto foto kenangan, video, hingga kontak teman-teman mereka. Lucunya kadang mereka merasa kehilangan SMS yang sarat kenangan daripada file-file multimedia lainnya. Bahkan fenomena yang menarik di Indonesia adalah, kehilangan smartphone menjadi masalah besar bagi sebagian orang karena foto-foto atau video yang sangat pribadi ada di gadget yang berukuran mini tersebut.</p>
<p>Yap, 2 fitur sederhana yang saya rasa cukup membuat smartphone sangat dibutuhkan berada di dekat si penggunanya. Tidak bisa lepas dari genggaman, dan menjadikannya gadget yang dekat secara emosional dengan penggunanya. Tidak sedikit pengguna smartphone yang senyum-senyum sendiri kalau memandangi gadget mungil ini. Atau kadang menangis, tertawa samapai marah marah ke smartphone mereka. Sesuatu yang sederhana dari smartphone (bahkan ada di handphone biasa), tapi menjadikannya salah satu gadget yang sangat dekat manusia saat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/01/18/smartphone-gadget-yang-semakin-menyentuh-emosi-penggunanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Infografis] Fakta Unik Adiksi Angry Bird</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/01/13/infografis-fakta-unik-adikisi-angry-bird/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/01/13/infografis-fakta-unik-adikisi-angry-bird/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 06:30:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putra Setia Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[angry birds]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[infografis]]></category>
		<category><![CDATA[mobile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=9006</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan smartphone di dunia seperti yang telah kita ketahui bersama. berbanding lurus dengan perkempangan konten aplikasi di dalamnya. Terutama aplikasi game. Salah satu yang sangat fenomenal adalah Angry Birds. Angry birds tidak hanya berhasil menjadi sebuah aplikasi game, tetapi juga berhasil menjadi sebuah "brand". Banyak sekali mainan, boneka, dan aksesori yang berbau angry bird, baik itu resmi maupun palsu. Sepengalaman saya bermain angry birds, game ini sangat adiktif. Game ini berhasil mengisi waktu luang saya (pada awalnya), sampai berhasil juga mencuri waktu kerja saya. Aplikasi game seperti ini, buat saya pribadi menjadikan smartphone barang yang semakin tidak boleh ketinggalan. Pada artikel ini saya memiliki angka angka yang cukup menarik tentang si angry birds ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-13-at-1.15.18-PM.png"><img class="alignleft size-full wp-image-9009" style="margin: 5px;" title="adikisi angry bird" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-13-at-1.15.18-PM.png" alt="" width="231" height="161" /></a>Perkembangan smartphone di dunia seperti yang telah kita ketahui bersama berbanding lurus dengan perkembangan konten aplikasi di dalamnya. Terutama aplikasi game. Salah satu yang sangat fenomenal adalah Angry Birds. Angry birds tidak hanya berhasil menjadi sebuah aplikasi game, tetapi juga berhasil menjadi sebuah &#8220;<em>brand</em>&#8220;. Banyak sekali mainan, boneka, dan aksesori yang berbau angry bird, baik itu resmi maupun palsu. Sepengalaman saya bermain angry birds, game ini sangat adiktif. Game ini berhasil mengisi waktu luang saya (pada awalnya), sampai berhasil juga mencuri waktu kerja saya. Aplikasi game seperti ini, buat saya pribadi menjadikan <em>smartphone</em> barang yang semakin tidak boleh ketinggalan. Pada artikel ini saya memiliki angka angka yang cukup menarik tentang si angry birds ini.</p>
<p>Hari ini saya menemukan infografis yang cukup menarik mengenai angry birds. Infografis ini membahas angry birds dari sisi psikologi, sosiologi dan faktor adiksi nya. Faktor game yang sangat simpel baik dari segi cerita maupun cara bermain nampaknya membuat banyak orang sangat menikmati waktu waktu luang (bahkan waktu kerja) bersama game sala finlandia ini. Seri seri game angry birds sendiri sudah berhasil mencapai total download sebanyak 1 milyar.</p>
<p>Beberapa poin menarik yang saya garisbawahin adalah sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Jumlah rata rata game angry birds di mainkan tiap harinya adalah selama 200 milyar menit atau sama dengan 380 tahun</li>
<li>Nilai dari perusahaan Rovio (pembesut angry birds) mencapai nilai $1 Milyar.</li>
<li>Sebanyak 58% pengguna yang memainkan angry birds <em>mood</em> nya menjadi lebih baik dari sebelumnya.</li>
<li>54% pengguna memainkan angry birds untuk mengisi waktu luang atau waktu istirahat mereka.</li>
<li>Sebanyak 52% pengguna yang jarang memainkan angry birds tidak menghapus aplikasi tersebut dari <em>dashboard</em> smartphone mereka (mungkin sudah menjadi aplikasi yang wajib ada di smartphone).</li>
</ul>
<div><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Angrybirds.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-9010" title="Angrybirds" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Angrybirds.jpg" alt="" width="550" /></a></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/01/13/infografis-fakta-unik-adikisi-angry-bird/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Ukuran Layar Terhadap Akses Konten Pengguna</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/01/12/pengaruh-ukuran-layar-terhadap-akses-konten-pengguna/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/01/12/pengaruh-ukuran-layar-terhadap-akses-konten-pengguna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putra Setia Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[device]]></category>
		<category><![CDATA[mind]]></category>
		<category><![CDATA[mobile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=8992</guid>
		<description><![CDATA[Rata - rata hampir semua orang paling tidak memiliki satu perangkat mobile. Entah itu dalam bentuk notebook, smartphone, portable media player, smartphone, ataupun tablet. Smartphone dan tablet bisa dibilang menjadi primadonanya. Entah karena alasan untuk sarana hiburan ataupun untuk meningkatkan produktivitas kerja. Banyak juga bermunculan produk produk dengan tipe dan ukuran layar yang berbeda jenis dan ukuran. Baru baru ini saya menemukan sebuah riset dari NPD In-Stat mengenai kebiasaan pengguna perangkat mobile jika dihubungkan dengan ukuran layar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-12-at-7.01.40-PM.png"><img class="alignleft  wp-image-8993" style="margin: 5px;" title="screen size" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/Screen-Shot-2012-01-12-at-7.01.40-PM.png" alt="" width="200" height="246" /></a>Rata &#8211; rata hampir semua orang paling tidak memiliki satu perangkat mobile. Entah itu dalam bentuk notebook, smartphone, portable media player, smartphone, ataupun tablet. Smartphone dan tablet bisa dibilang menjadi primadonanya. Entah karena alasan untuk sarana hiburan ataupun untuk meningkatkan produktivitas kerja. Banyak juga bermunculan produk produk dengan tipe dan ukuran layar yang berbeda jenis dan ukuran. Baru baru ini saya menemukan sebuah riset dari NPD In-Stat mengenai kebiasaan pengguna perangkat mobile jika dihubungkan dengan ukuran layar.</p>
<p>Mayoritas tablet yang ada dipasaran saat ini memiliki ukuran layar antara 9 &#8211; 11 inchi. Penggunaan terbesarnya adalah untuk web browsing, email, penggunaan aplikasi mobile (Productivity). Dalam laporan risetnya In-Stat mengatakan bahwa ukuran layar yang lebih kecil lebih sering digunakan untuk hal hal yang berbau hiburan seperti musik, video, games, dan lain lain. Walupun begitu bukan berarti perangakat dengan layar yang lebih besar tidak banyak digunakan untuk hiburan, tapi data menngatakan bahwa pengguna yang memerlukan perangkat mobile untuk urusan productivity lebih menggemari layar besar daripada layar kecil.</p>
<p>Jika data ini memang benar benar akurat, maka bisa ditarik kesimpulan alasan kenapa beberapa produk tablet atau smartphone gagal di pasaran. Sebagai contoh kasus adalah BlackBerry Playbook yang banyak orang berpikir akan digunakan untuk urusan pekerjaan. Tapi sayangnya playbook kurang berhasil menyediakan konten productivity. Dan kalau kita lihat begitu konten game dan hiburan banyak masuk ke Playbook, minat pasar kembali terangkat.</p>
<p>Hingga saat ini apple dengan iPadnya berhasil mendominasi pasar tablet dunia, dengan ukuran layar dikisaran 10 inchi. Karena didalamnya memang sudah tersedia aplikasi productivity yang mumpuni dan nyaman secara penggunaanya. Dan kebanyakan aplikasi yang digunakan bertipe seperti aplikasi reader, planner, calendar, mail, dan juga aplikasi untuk kolaborasi. Maka dari itu pengguna tidak ragu untuk membeli apliaksi productivity di iPad, karena memang dengan layar yang besar kenyamanan dalam memanfaatkan aplikasi non hiburan akan lebih nyaman. Mungkin sebagai pelopor tablet di pasaran, Apple sudah mempertimbangkan hal ini dan akhirnya sampai sekarang mereka tetap memakai layar berukuran kurang lebih 10 inchi.</p>
<p>Sedangkan untuk perangkat dengan layar kecil, saya sendiri meraa lebih nyaman ketika ingin menonton video ataupun bermain game. Alasan utama karena gambar yang saya dapatkan lebih besar daripada di smartphone, tapi juga pas digenggaman saat harus menikmati hiburan tersebut.</p>
<p>Sekali lagi jika data ini memang akurat maka, hal ini pun bisa menjadi bahan pertimbangan bagi para pengembang aplikasi tentang bagaimana mereka menargetkan aplikasi yang mereka buat untuk dapat berjalan di perangkat dengan ukuran layar tertentu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/01/12/pengaruh-ukuran-layar-terhadap-akses-konten-pengguna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Drop Out Kuliah Untuk Memulai Usaha?</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/01/06/drop-out-kuliah-untuk-memulai-usaha/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/01/06/drop-out-kuliah-untuk-memulai-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 06:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Firman Nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[drop out]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[StartUp]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=8887</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini saya semakin banyak melihat mahasiswa (terutama di Depok, karena saya lebih sering di sana :D namun saya yakin mahasiswa di daerah lain juga sama) di bidang teknologi informasi yang ingin membuat startup sendiri. Banyak mahasiswa yang ingin membuat "produk" digital dan ingin sukses besar dari aplikasi digital yang mereka buat lalu setelah kuliah ingin membuat perusahaan sendiri. Saya sendiri senang melihat besarnya antuasiasme mahasiswa dalam mengembangkan usaha seperti ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft  wp-image-8900" title="pengusaha mahasiswa" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/pengusaha-mahasiswa-300x200.jpg" alt="" height="150" />Belakangan ini saya semakin banyak melihat mahasiswa (terutama di Depok, karena saya lebih sering di sana :D namun saya yakin mahasiswa di daerah lain juga sama) di bidang teknologi informasi yang ingin membuat <em>startup</em> sendiri. Banyak mahasiswa yang ingin membuat &#8220;produk&#8221; digital dan ingin sukses besar dari aplikasi digital yang mereka buat lalu setelah kuliah ingin membuat perusahaan sendiri. Saya sendiri senang melihat besarnya antuasiasme mahasiswa dalam mengembangkan usaha seperti ini.</p>
<p>Namun&#8230; belakangan ini saya juga sering mendengar pemikiran mahasiwa dan masukan ke mahasiswa baik secara langsung ataupun tidak langsung bahwa mereka yang ingin fokus usaha lebih baik drop out kuliah. Saya pribadi sangat tidak setuju dengan hal ini. Ada yang bilang bahwa kuliah tidak berguna, banyak pelajaran yang tidak digunakan, dan sebagainya. Menurut saya pola berpikir seperti ini dikarenakan 2 hal: belum mengerti implementasi di dunia nyata dari ilmu perkuliahan yang didapat atau salah ambil jurusan perkuliahan.</p>
<p>Dulu saya juga termasuk yang berpikir, &#8220;Ah apa gunanya pelajaran bahasa Indonesia, belajar matematika, belajar ilmu telekomunikasi, dan lain-lain selama perkuliahan di usaha yang saya kembangkan&#8221;. Namun ternyata makin kesini, saya semakin merasakan manfaat dari ilmu perkuliahan yang saya dapat. Pelajaran bahasa Indonesia yang sering saya remehkan sangat bermanfaat ketika saya membuat proposal, menulis artikel, dan lainnya. Matematika mengasah kemampuan berpikir logis saya dan beberapa bidang matematika ternyata sangat digunakan di beberapa produk yang saya miliki dan lainnya.</p>
<p>Untuk mereka yang merasa kuliah sepertinya dipenjara, menurut saya kemungkinan besar karena salah mengambil jurusan kuliah. Maka dari itu saya selalu menekankan ke adek-adek saya dan teman-teman calon mahasiswa untuk jangan asal dalam memilih jurusan perkuliahan, karena jika sampai salah maka akan seperti membuang buang uang dan waktu yang besarnya tidak kecil.</p>
<p>Kebanyakan mereka yang kuliah pasti memiliki waktu 4 tahun untuk pembelajaran. Menurut saya tidak ada salahnya jika masih berkesempatan untuk berkuliah maka ikuti perkuliahan dan sembari berkuliah mengisi waktu luang dengan mengembangkan usaha. Saya yakin kebanyakan mereka yang kuliah masih memiliki waktu yang banyak di luar waktu perkuliahan, ditambah pula masih banyak yang belum memiliki beban untuk mencari uang sendiri.</p>
<p>Mengikuti perkuliahan di kampus sendiri tidak cukup menurut saya jika ingin membangun usaha, harus aktif di kegiatan di luar kuliah untuk menutupi ilmu-ilmu yang tidak di dapat di kampus. Bisa mulai dengan aktif di komunitas-komunitas pengusaha, atau melebarkan relasi bisnis, atau bereksperimen sendiri dalam mengembangkan usaha, atau bahkan aktif berkomunikasi dengan dosen di kampus tentang usaha yang sedang dikembangkan.</p>
<p>Masuk kuliah juga bukan satu-satunya cara agar dapat mencari ilmu dan mengembangkan usaha. Namun juga drop out kuliah untuk memulai usaha tidak pasti akan tiba-tiba membuat kita jadi dapat lancar usahanya. Memang ada mereka yang dapat tanpa kuliah bisa mengembangkan usaha hingga sukses besar, namun itu hanya segelintir dari orang-orang brilian saja.</p>
<p>Nah&#8230; saya juga ada bacaan yang menarik untuk para mahasiswa tentang mitos-mitos seputar pengusaha, berikut adalah artikelnya: <a href="http://wadhwa.com/2011/07/29/washington-post-five-myths-about-entrepreneurs/" target="_blank">Five Myths About Entrepreneurs</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/01/06/drop-out-kuliah-untuk-memulai-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Pelari Maraton Dunia</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2012/01/02/belajar-dari-pelari-maraton-dunia/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2012/01/02/belajar-dari-pelari-maraton-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 12:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putra Setia Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[profesional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=8839</guid>
		<description><![CDATA[Olahraga dan bisnis adalah dua hal yang menurut saya bisa saling berkaitan. Saya sendiri adalah orang yang senang mengimplementasikan sesuatu dari dunia olahraga ke pekerjaan dan bisnis saya secara umum. Salah satu yang saya pelajari adalah bagaimana seorang pelari maraton berlatih dan bertanding.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/maraton.jpg"><img class="alignleft  wp-image-8840" title="maraton" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2012/01/maraton.jpg" alt="" width="200" /></a>Olahraga dan bisnis adalah dua hal yang menurut saya bisa saling berkaitan. Saya sendiri adalah orang yang senang mengimplementasikan sesuatu dari dunia olahraga ke pekerjaan dan bisnis saya secara umum. Salah satu yang saya pelajari adalah bagaimana seorang pelari maraton berlatih dan bertanding.</p>
<p>Seorang pelari maraton tidak hanya memerlukan stamina yang kuat untuk memenangi sebuah pertandingan. Di balik itu mereka memerlukan latihan dan juga mental yang siap untuk mencapai tujuan mereka. Berikut adalah beberapa hal yang bisa saya ambil dari para atlit maraton dunia tersebut.</p>
<p><strong>Tujuan yang Konkret, Tujuan yang Unggul dan Optimis</strong></p>
<p>Pelari maraton memiliki tujuan yang sangat spesifik tentang apa yang akan mereka capai. Tujuan yang mereka miliki kadang harus menembus batas kemampuan manusia (bayangkan mereka harus berlari dengan jarak yang jauh dan cepat dan juga harus BERSAING!! ). Tapi target sulit yang mereka ingin capai membuat mereka bisa berpikir lebih kreatif dan fokus dalam upaya mereka membuat program latihan, pemusatan mental, pengaturan nutrisi makanan, pengaturan gaya hidup dan hal hal lainnya yang bisa dimaksimalkan dalam pencapaian sesuatu yang cukup sulit itu.</p>
<p>Hal yang sama juga berlaku bagi para pekerja, pengusaha ataupun mahasiswa. Untuk bisa bersaing di masa sekarang ini, kita butuh tujuan yang konkret, dan tujuan yang membuat kita menjadi unggul. Untuk menjadi unggul tentunya target yang dipasang haruslah kreatif dan melebihi target dari kompetitor. Untuk mencapai target tersebut tentunya kita harus memiliki rasa optimis yang tinggi dan diikuti perencanaan yang optimal untuk mengunggulkan apa yang akan kita capai nantinya. Intinya semakin jelas dan tinggi tujuan, akan semakin tinggi motivasi dan akhirnya akan semakin tinggi usaha dan kreativitas untuk mencapai tujuan tersebut.</p>
<p><strong>Merancang Latihan, Bekerjasama Dengan Pelatih &amp; Memperluas Kemampuan</strong></p>
<p>Atlet dunia melakukan latihan secara terus menerus dan bekerjasama dengan pelatih mereka walaupun mereka sudah memenangi medali emas ataupun sudah menjadi yang tercepat di dunia. Mereka tidak pernah menggangap remeh masukan dari pelatih yang notabene hanya bisa memberi masukan dan bisa saja tidak lebih hebat dari si pelari tersebut. Atlet dan pelatih yang besar akan selalu bekerjasama melakukan pembaruan dari cara mereka berlatih dan memasukan tantangan baru yang lebih tinggi untuk memperluas kemampuan yang dimiilki si atlet.</p>
<blockquote><p>Elite athletes have very specific goals about what they want to achieve. They do not train aimlessly. -Anonymous-</p></blockquote>
<p>Begitu juga di dunia kerja, kita seharusnya mau mencoba memperluas kemampuan yang dimiliki walaupun kemampuan tersebut berada di area yang kurang kita sukai ataupun yang menjadi kelemahan kita. Dengan dibantu tujuan yang jelas biasanya kita akan tahu kekurangan yang kita miliki dan tidak akan merasa sia-sia berjibaku untuk meningkatkan kemampuan yang menjadi kelemahan kita itu. Selain itu kita juga seharusnya berkonsultasi dengan orang yang lebih senior, orang-orang disekitar atau bahkan kepada orang yang menurut kita tidak penting (misalnya bawahan kita, orang tua dan lain-lainnya). Mintalah masukan dari apa yang telah kita lakukan. Saring masukan mereka, yang menurut anda sesuai dengan tujuan yang dapat mengunggulkan anda.</p>
<p><strong>Mencatat Apa Saja Usaha yang Telah Dikeluarkan dan Mencatat Semua Hasil yang Ada</strong></p>
<p>Pelari kelas dunia tidak hanya merencanakan tujuan latihan mereka dan program latihan mereka. Mereka juga disibukkan dengan mencatat dan mendokumentasikan hasil yang mereka dapat dari program latihan yang mereka buat. Hal ini memungkinkan mereka mengamati pola, melihat latihan apa yang bekerja dengan benar dan kurang berhasil. Setelah mereka mempelajari dokumentasi tersebut, mereka akan berkonsultasi dengan tim pelatih mereka untuk membuat program latihan yang lebih sempurna dan lebih cocok dengan kemampuan si pelari serta cocok dengan tujuan yang bisa mengunggulkan si pelari tersebut.</p>
<p>Di konteks dunia profesional, anda dapat melacak misalnya bagaimana investasi waktu anda dengan hasil yang dapat dicapai. Mungkin anda bisa melihat kalau anda terlalu banyak menginvestasikan waktu di satu hal tapi tidak mendapatkan timbal balik yang cukup dari waktu yang telah anda habiskan tersebut (baik jangka panjang maupun pendek). Sebagai profesional kita juga dituntut untuk bisa mengefisiensikan waktu untuk mencapai tujuan yang bisa mengunggulkan. Membatasi waktu dari usaha anda bukanlah hal yang menandakan anda tidak serius, tapi menandakan anda orang yang mampu mengontrol diri anda dan waktu anda. Dengan melakukan dokumentasi terhadap usaha dan hasil yang anda capai, sangat besar kemungkinan anda melihat pola kelemahan atau bahkan kesempatan anda untuk lebih unggul kedepannya.</p>
<p><strong>Memiliki Pandangan Jangka Panjang</strong></p>
<p>Pelari maraton dunia pastinya memiliki tujuan untuk memenangkan sesuatu kejuaraan. Tapi tahukah anda jika si pelari tersebut ternyata lebih memiliki pandangan &#8220;Berapa banyak kejuaraan yang bisa saya menangkan?&#8221; Karena jika mereka berlatih terlalu berat hanya untuk satu kejuaraan saja tanpa memikirkan keadaan tubuh mereka untuk kejuaraan lainnya maka besar kemungkinan mereka akan memenangkan satu kejuaraan saja dalam sepanjang karir mereka. Mereka bisa terbelit cedera yang panjang jika terlalu memaksakan untuk bisa unggul dari pesaingnya. Kadang mereka hanya memanfaatkan sebuah kejuaraan untuk persiapan atau ajang uji coba bagi kejuaraan yang lebih besar. Mereka memiliki ambisi besar, tapi mereka memiliki kontrol ambisi yang jauh lebih besar. Mereka memiliki rencana yang matang yang dapat mencapai hasil yang jauh lebih besar dan efektif.</p>
<p>Jika di dunia pekerjaan maka seharusnya kita bisa memilih pekerjaan yang bisa menggembangkan kemampuan, melakukan uji coba, pembelajaran untuk bisa mencapai tujuan kita yang lebih unggul dari orang lain. Biasanya profesional saat ini mengerjakan proyek yang menghasilkan uang banyak tapi secara tidak disadari malahan tidak cocok dengan tujuan awal dan malah membunuh kratifitas, inovasi dan bahkan kemampuan mereka. Ada baiknya jika kita mengambil pekerjaan, proyek atau membuat produk yang sejalan dengan <em>roadmap</em> dan juga <em>timeline</em> tujuan akhir kita. Sehingga nantinya pekerjaan, proyek, maupun produk yang akan kita kerjakan akan dapat mengembangkan kemampuan kita dan bukannya malah membuat kita cedera dan tidak bisa mengembangkan prestasi kedepannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2012/01/02/belajar-dari-pelari-maraton-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

