<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TeknoJurnal &#187; foursquare</title>
	<atom:link href="http://www.teknojurnal.com/tag/foursquare/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.teknojurnal.com</link>
	<description>Your IT Development Guide</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 12:00:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Layanan Berbasis Lokasi Apakah Bisa Menjadi &#8220;Mainstream&#8221; atau hanya &#8220;Trend&#8221; ??</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2010/11/29/layanan-berbasis-lokasi-apakah-bisa-menjadi-mainstream-atau-hanya-trend/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2010/11/29/layanan-berbasis-lokasi-apakah-bisa-menjadi-mainstream-atau-hanya-trend/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 11:25:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putra Setia Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[deals]]></category>
		<category><![CDATA[facebook places]]></category>
		<category><![CDATA[foursquare]]></category>
		<category><![CDATA[location based service]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=4149</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Anda menggunakan aplikasi berbasis lokasi atau layanan seperti Foursquare atau Gowalla? So... jika ya anda masuk sebagai kalangan minoritas dari pengguna internet yang menggunakan aplikasi berbasis share lokasi (menurut Pew Research Center Internet dan American Life Project). Survei menemukan bahwa hanya 4 persen orang dewasa menggunakan layanan yang memungkinkan mereka untuk berbagi lokasi dengan teman-teman mereka, dan untuk setiap harinya hanya 1 persen pengguna internet memanfaatkan layanan berbagi lokasi tersebut. So.. Muncul pertanyaan apakah peluncuran layanan Facebook Places dan juga beberapa aplikasi yang berhubungan dengan "Deals" (tentunya berbasis lokasi) akan mulai mengubah angka-angka hasil survei diatas sehingga menjadikan "Location Based dan Share Location" menjadi layanan mainstream?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2010/11/images.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-4151" style="margin: 5px;" title="Location Based Service" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2010/11/images-150x150.jpg" alt="Location Based Service" width="150" height="150" /></a>Apakah Anda menggunakan aplikasi berbasis lokasi atau layanan seperti Foursquare atau Gowalla? So&#8230; jika ya anda masuk sebagai kalangan minoritas dari pengguna internet yang menggunakan aplikasi berbasis share lokasi (menurut Pew Research Center Internet dan American Life Project). Survei menemukan bahwa hanya 4 persen orang dewasa menggunakan layanan yang memungkinkan mereka untuk berbagi lokasi dengan teman-teman mereka, dan untuk setiap harinya hanya 1 persen pengguna internet memanfaatkan layanan berbagi lokasi tersebut. So.. Muncul pertanyaan apakah peluncuran layanan Facebook Places dan juga beberapa aplikasi yang berhubungan dengan &#8220;Deals&#8221; (tentunya berbasis lokasi) akan mulai mengubah angka-angka hasil survei diatas sehingga menjadikan &#8220;Location Based dan Share Location&#8221; menjadi layanan mainstream?</p>
<p>Sebenarnya kecilnya presentasi pengguna yang menggunakan fitur location based tidak terlalu mengagetkan asalkan survei yang dilakukan hanya untuk pengguna desktop. Kenapa? Karena mereka hanya mengakses dari PC/notebook, yang memang kurang cocok untuk penggunaan fitur location based. Tetapi bagaimana dengan para pengguna yang online secara mobile melalui smartphone mereka? Saya rasa jumlah ini cukup kecil. Begitu juga menurut laporan Pew, hanya 7 % dari orang-orang dewasa yang online melalui ponsel mereka menggunakan layanan berbasis lokasi.</p>
<p>Hasil penelitian lain dari Forrester di bulan Juli juga memiliki hasil yang tidak jauh berbeda yang intinya penggunaan layanan berbasis lokasi masih sedikit digunakan, walaupun gaungnya sudah tersebar dimana-mana apalagi semenjak kemunculan si Foursquare. Hasil penelitian dari Forrester mengatakan bahwa hanya 4 persen onliners di AS yang pernah menggunakan layanan berbasis lokasi. sedangkan 85 persen malah mengatakan mereka tidak terbiasa menggunakan layanan seperti itu. So&#8230; apakah sebenarnya aplikasi berbasis lokasi itu kurang menarik? Atau monoton? Atau malah hanya booming sesaat? Apakah karena layanan yang jadi terpencar-pencar (ada Foursquare, Gowalla dan lain lain) user jadi kurang fokus menggunakan fitur location based?</p>
<p>Saat ini menurut saya ada satu produk yang bisa membantu naiknya penggunaan layanan berbasis lokasi ke tingaktan mainstream use. Layanan tersebut adalah Facebook Places. Fitur baru ini memang baru dirilis beberapa bulan lalu, tetapi menurut pernyataan Mark Zuckerberg, layanan ini sudah mengalami peningkatan pertumbuhan pengguna yang cukup besar dibandingkan dengan layanan sejenis pada awal peluncurannya (ya menurut saya karena ada faktor momentum dan juga nama besar si Facebook). Dengan rival utamanya si Foursquare yang memiliki sekitar 4 juta pengguna, dan belum jelas berapa yang secara &#8220;aktif menggunakan&#8221; layanan si Foursquare itu sendiri. Si CEO Facebook ini merasa yakin dengan kesuksesan si Facebook Places untuk menjadikan pengguna lebih &#8220;Aktif&#8221; lagi untuk menggunakan layanan berbasis lokasi.</p>
<p>Hmmmm&#8230;. mungkin yang membuat Mark Zuckerberg cukup yakin adalah pertama karena jumlah pengguna Facebook yang sangat besar dibarengi dengan tingkat keaktifan mereka menggunakan si Facebook itu sendiri. Kemudian yang kedua, berkaca dari kesuksesan game yang ada di Facebook, dan ketiga adalah adanya reward saat menggunakan Facebook Places. Nah untuk poin yang terakhir direalisasikan oleh Facebook Places dengan fitur di aplikasi mobile mereka yang disebut &#8220;Deals&#8221;, dimana jika user melakukan &#8220;check-in&#8221; di toko toko yang telah melakukan kerja sama dengan Facebook, si pengguna tersebut akan mendapatkan diskon ataupun promo spesial. Beberapa perusahaan yang sudah berpartner adalah The Gap, Starbucks, AEO, dan juga McDonald&#8217;s.</p>
<p>Nah menurut saya mendapatkan diskon merupakan sebuah dorongan tersendiri bagi para onliners yang mobile untuk menggunakan layanan berbasis lokasi ( fitur &#8220;check-in&#8221; ). Ok sekarang kita bandingkan dengan si Foursquare, apalagi yang bisa dilakukan selain checkin dan sharing tips? Kita tidak bisa komen, dan mereka juga menggunakan Twitter sebagai media share ke publiknya. Jadi seperti hanya tools untuk menampilkan lokasi di Twitter saja. Nah sedangkan si Facebook sudah langsung terintegrasi dengan fitur bawaan si Facebook seperti wall tagging dan lain-lain, walaupun memang masih banyak yang komplain soal privasi dari penggunaan Facebook Places.</p>
<p>So.. dengan jumlah user Facebook yang dikasaran 500 juta, dan didukung dengan fitur Facebook lainnya, serta adanya iming-iming reward, saya rasa mengangkat penggunaan layanan berbasis lokasi ke tingkat mainstream sangat sangatlah mungkin. So.. yang perlu dicatat apakah rencana Facebook Places ini berhasil melawan kemalsan pengguna memakai fitur location based untuk penggunaan sehari-hari? Kita tunggu saja sepak terjangnya Facebook Places, dan tentunya kita tunggu juga inovasi di sektor per-lokasian ini. Apakah mampu menjadi mainstream atau tidak?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2010/11/29/layanan-berbasis-lokasi-apakah-bisa-menjadi-mainstream-atau-hanya-trend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foursquare is a killer, yet!</title>
		<link>http://www.teknojurnal.com/2010/07/26/foursquare-is-a-killer-yet/</link>
		<comments>http://www.teknojurnal.com/2010/07/26/foursquare-is-a-killer-yet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 05:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gelar Pradipta Utama</dc:creator>
				<category><![CDATA[TeknoMind]]></category>
		<category><![CDATA[foursquare]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.teknojurnal.com/?p=2096</guid>
		<description><![CDATA[“Berapa banyak badge anda di Foursquare?” Pertanyaan ini pasti banyak didengar para onliners dan socmed junkies belakangan ini. Yap, Foursquare jadi primadona baru di dunia social networking Indonesia. Umurnya terbilang masih muda, belum menginjak 2 tahun, tapi sudah mulai ngehip di mana-mana, terutama di Indonesia. Di Indonesia sendiri bisa dibilang foursquare jadi one of top 5 social networking here. Even on twitter they all talk about badges!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2098" title="foursquare" src="http://www.teknojurnal.com/wp-content/uploads/2010/07/foursquare-150x150.jpg" alt="foursquare" width="150" height="150" />“Berapa banyak badge anda di Foursquare?” Pertanyaan ini pasti banyak didengar para onliners dan socmed junkies belakangan ini. Yap, Foursquare jadi primadona baru di dunia social networking Indonesia. Umurnya terbilang masih muda, belum menginjak 2 tahun, tapi sudah mulai ngehip di mana-mana, terutama di Indonesia. Di Indonesia sendiri bisa dibilang foursquare jadi one of top 5 social networking here. Even on twitter they all talk about badges!</p>
<p>Apasih kunci utama sukses (kalau bisa dibilang sukses) nya Foursquare di Indonesia? Saya sendiri berpendapat ada dua faktor utama yang membuat Foursquare menjadi rising star di Indonesia. Pertama, pasti badges. Yes, Foursquare is all about badges. Untuk yang belum tau apa itu badges, kira-kira begini Foursquare mendeskripsikan badges: ‘Badges are little rewards you earn based on your check in habits’. Lalu kenapa saya bilang badges adalah satu kunci utama keberhasilan Foursquare di Indonesia? Mari lihat ke beberapa tahun ke belakang. There was a Plurk, right? Plurk yang masuk Indonesia lebih dulu daripada Twitter juga sempat digandrungi onliners Indonesia. Alasan utamanya, tentu Karma. Karma yang 11-12 dengan badges ini menjadi alasan utama Plurkers nge-Plurk. Now, see what am I trying to say?</p>
<p>Yap, masyarakat online Indonesia senang dihargai, dan di-eksis-kan. Semakin tinggi karma anda, berarti semakin tinggi derajat anda di Plurk :p. Begitu juga di Foursquare. Semakin banyak badges anda, selain dapat menikmati banyak promo, juga ke-eksis-an anda diakui jagat foursquare. Masyarakat online Indonesia senang usahanya dihargai, walaupun dengan hal ‘kecil’ seperti badge dan karma.</p>
<p>Tapi, entah kenapa saya berpendapat trend badges ini ga bakal tahan lama. Lihat saja Plurk, yang (bisa dibilang) dihabisi Twitter di Indonesia. Kenapa? Dalam kasus plurk, setelah user mencapai karma 100, lalu mereka bingung mau ngapain lagi. Sama seperti badges, walaupun Foursquare bilang mereka akan terus menambah badges-badges baru, tapi saya nggak yakin user nggak bosen terus-terusan mengejar-ngejar badges.</p>
<p>Yang kedua, mobile application. Untuk seorang “anak baru”, mobile application Foursquare tergolong lengkap. Bandingkan dengan Twitter yang baru tahun ini meluncurkan aplikasi resmi nya untuk Blackberry. Foursquare memang pintar membaca pasar, dengan fitur-fitur yang mereka miliki, konsep dasar Foursquare yang digunakan para onliners mobile,  sebuah aplikasi yg mendukung berbagai platform memang sebuah keharusan. Sekarang, Foursquare sudah memiliki aplikasi resmi (bukan third party) untuk iPhone, Android, dan Blackberry. Satu hal yang belum dimiliki kompetitor nya yang notabene asal Indonesia, Koprol.</p>
<h3><span style="color: #ff6600;">The Future of Foursquare</span></h3>
<p>Yap, Foursquare memang sangat bergema di Indonesia akhir-akhir ini, walaupun memang belum mengalahkan Twitter. Tapi dengan fiturnya yang masih limited, saya kira Foursquare tidak akan bertahan lama di Indonesia. Kasarnya, kita tinggal menunggu jenuhnya para onliners check in sana check in sini demi sebuah badge. Sama seperti Plurk, yang semakin tenggelam akhir-akhir ini. Foursquare butuh lebih dari sekedar badges, mereka butuh sebuah fitur yang bisa membuat user addicted tiada henti. And they need it soon, atau the killer, will be killed.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.teknojurnal.com/2010/07/26/foursquare-is-a-killer-yet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

